Pradi Bangun Kantor Saber Pungli, Saat Lurah Ditangkap

DEPOK- Tak miliki ruangan yang representatif di lingkungan Polresta Depok, Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna ingin membangun kantor Saber Pungli saat mengunjungi Polresta Depok saat dirinya bertandang ke Mako Polresta Depok, Jumat (16/2/2019). Padahal sebelumnya, Kamis (15/2019) Lurah Kalibaru dicokok dikantornya dengan dugaan pungli.

Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna mengatakan, pihaknya sedang mempersiapkan pembuatan kantor baru, yang dikhususkan untuk tim saber pungli. Tim saber pungli yang beranggotakan Polisi, dan Inspektorat Pemkot Depok dapat menggunakan fasilitas yang ada. “Kita mau persiapan buat kantor baru,” kata Pradi di rumah makan Situ Jatijajar.
Dia mengatakan untuk memaksimalkan kolaborasi antara polisi dan Inspektorat Pemkot Depok, pihaknya juga ingin memfasilitasi dengan bangunan baru di lingkungan Polresta Depok. “Kita lakukan persiapan baru, karena ketua saber pungli dari Polresta baru, yang dijabat Wakapolresta Depok, ketua Inspektorat juga baru,” kata Pradi.
Pradi menjelaskan nantinya akan ada sebuah bangunan baru, untuk kantor tim saber pungli. “Saya ingin bangunan yang baru, dan representatif,” kata Pradi.
Namun dia berdalih kedatangannya ke Polresta Depok tidak ada hubungannya dengan penangkapan anak buahnya yang terlibat pungli. “Tidak ada kaitannya,” kilah Pradi.

Lurah Kalibaru, Cilodong, Abdul Hamid

Sementara, diwaktu yang hampir bersamaan, Lurah Kalibaru, Kecamatan Cilodong, Abdul Hamid (AH) kedapatan melakukan pungutan liar dalam pembuatan Akta Jual Beli Tanah. AH juga telah diamankan polisi sejak, Kamis (14/2/2019).
Kapolresta Depok, Kombes Pol Didik Sughiarto menuturkan kasus tersebut terbongkar ketika Tim Saber Pungli Polresta Depok memperoleh informasi tersangka meminta biaya mengurus akta jual beli (AJB) tanah. Padahal seperti diketahui apabila, masyarakat hendak mengurus surat – surat lahan membutuhkan tanda tangan lurah, sebagai saksi.
“Jadi yang dilakukan oknum lurah tersebut meminta biaya yang tidak sesuai dengan ketentuan dalam pengurusan AJB tanah,” kata Didik.
Menurutnya, proses operasi tangkap tangan dilakukan di kantor Kelurahan tempat AH bekerja. Didik menegaskan, selain mengamankan tersangka, petugas juga berhasil menyita barang bukti berupa AJB yang telah ditandatangi oleh pelaku dan uang sebesar Rp 5 juta.
“Selain itu, ada beberapa dokumen – dokumen lainnya yang akan digunakan penyidik sebagai alat bukti,” bebernya.

Didik menuturkan, berdasarkan hasil penyelidikan diketahui tersangka terbukti melakukan tindakan penyalahgunaan wewenang, dengan memungut biaya kepada masyarakat tidak sesuai ketentuan aturan dari pemerintah mengenai pejabat pembuat akte tanah.

“Dalam ketentuan PP nomor 24 tahun 2016 bahwa PPAT dan PPATS dan saksi biayanya tidak boleh melebihi 1%, nah dalam peristiwa ini saudara AH menarget biaya 3% untuk dirinya sendiri kepada masyarakat yang mengurus AJB,” tuturnya.

Selanjutnya, masih menurut Didik hingga saat ini Tim penyidik Satreskrim Polres Depok masih melakukan penyelidikan dan menetapkan status AH sebagai tersangka.

“Hari ini, penyidik telah menaikkan proses hukum tersangka dari penyelidikan menjadi penyidikan. Pemeriksaan masih dilakukan, setelah keluar hasilnya tentu kita akan mengambil langkah,” tandasnya.

Saat ditanya, ada berapa saksi yang telah diperiksa penyidik, Didik menegaskan ada empat orang.

“Sampai saat ini, yang bersangkutan bertindak sendirian. Belum ada indikasi, tersangka lain,” pungkasnya.

AH diduga melakukan tindak pidana korupsi yang diatur dalam pasal 12e, UU nomor 20 tahun 2001, sebagaimana perubahan dari UU nomor 31 tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi. (rub)

Iklan

Jawaban Dari Sebuah Doa

Aku terharu, anak pertama, menunggu lama.

Hampir dua tahun kami menunggu buah pernikahan. Hingga itu menjadi hal yang mengharukan bagi kami. Seorang bayi mungil, hadir ditengah kami. Akupun terharu, memiliki beban baru, malah menjadi semangat baru untuk menjalani hidup.

Sebelum memiliki anak, selain doa yang ku panjatkan ingin memiliki anak yang Sholeh. Usaha medis pun kami lalui. Keinginan memiliki anak membuat kami semakin ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Sempat beberapa kali ke Puskesmas Cinere, metode pengobatan yang digunakan seperti hanya menjalankan prosedur. Tidak ada kasih sayang.

Suster hanya bertanya, haid terakhir kapan? Dan diwajibkan membeli alat deteksi kehamilan, untuk mengetahui hamil atau tidak. Dan jawabannya “Rahim ibu subur, ditunggu saja memang belum waktunya.”

Kalo cuma buat cek pakai alat deteksi kehamilan aku juga bisa. Bodohnya kami melakukan beberapa kali dengan jawaban yang sama. Kenapa pelayanan kesehatan seperti praktik mata kuliah, terlalu teks book.

Perkembangan teknologi di pelayanan kesehatan tidak diimbangi dengan Sumber Daya Manusia (SDM). Mustinya pemerintah jeli. karena ini bersinggungan langsung dengan jiwa manusia.

Hingga saatnya, setelah mendengar saran saudara, sahabat, orang tua, kami berangkat ke dokter kandungan. Memang benar, rahim istriku sehat, tapi ada kista yang menghambat perkembangan sperma. Cukup besar, namun masih dalam batas wajar. “Ini ndak perlu di operasi, nanti saya kasih obatnya,” kata dokter sembari mencatat resep yang harus disiapkan.

Aku sedih campur bahagia. Sedih karena kista, bahagia karena bisa ditangani tanpa operasi, yang artinya istriku bisa segara hamil. Pengobatan berhasil, kista menyusut istriku sangat berpotensi untuk hamil. Tinggal jaga pola makan untuk kesuburan rahim.

Hingga akhirnya, istriku hamil, sempat telat haid dua bulan, tapi dia belum terlalu yakin itu hamil atau bukan. Karena kista telah mengubah pola haidnya menjadi berantakan. Dia pernah dua bulan tak haid, bahkan lebih. Malah darah haid pernah keluar dalam satu bulan penuh.

Kami mengetahui bahwa dia hamil setelah dua bulan masa kehamilan. Kami bersyukur, ‘strip dua’ lambang idaman pasangan muda telah kami dapat. Aku bahagia sekali.

Aku selalu antar periksa kandungan, menjadi lelaki siaga. Aku selalu suka dengan gerakan dalam perut istri. Aku anggap itu bentuk perhatian nya kepada bapaknya, kami saling bicara meski bayi dalam kandungan tidak menjawab secara verbal.

Pertama kali ke bidan tempat kami periksa kandungan dia memprediksi Hari Perkiraan Lahir 24 Januari 2019. Meski mesin USG memprediksi lahir 31 Januari 2019, dan akhirnya lahir 29 Januari 2019, itu rahasia Alloh. Perjalanan hamil yang menyenangkan menyambut anak pertama. Meski tak jarang terdapat pertengkaran karena prinsip. Tapi selebihnya bahagia.

Persikad 1999 Harus Bangkit

Persikad 1999 gagal menaklukkan Persiwa Wamena, di GOR Ciracas, Jakarta Timur, Rabu (6/2/2019). Bahkan klub kebanggaan Kota Depok ini harus menelan pil pahit setelah dilumat 0-2 saat menjamu Persiwa Wamena.

Diawal pertandingan, Serigala Margonda mampu menguasai permainan, bahkan pertahanan Persiwa sempat dibuat kerepotan. Permainan pendek ala vilanesia dipertontonkan Persikad 99.

Namun tidak lama, mendekati akhir babak pertama, Persikad langsung kebobolan dua kali. Tidak bisa dipungkiri materi pemain Persikad berada dibawah pemain Persiwa. Kepercayaan diri pemain Persikad juga perlu ditingkatkan.

Saat menonton pertandingan, mantan pelatih Persija Jakarta, yang juga pernah menangani Persikad era lama, Isman Jasulmei mengatakan Persikad1999 harus kerja keras, terlebih jika sudah masuk liga, tentu pemain dan official harus kerja keras.

Dia mengaku apresiasi tentang penerapan teknik vilanesia. Karena dianggap sangat lekat dengan gaya permainan Indonesia. Main cepat dari kaki ke kaki. Sebelum menerapkan vilanesia sebaiknya tim pelatih harus memberikan pemahaman teknik dasar. “Saya apresiasi, karena Persikad 1999 klub baru, dan itu normal. Tapi jika ingin tetap bertahan, kerja keras, perbaikan yang kurang,” kata Isman.

Buniyani Masuk Bui

DEPOK- Kejaksaan dibuat bingung, hingga pukul 19.20, terpidana kasus pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksinya Elektronik (UU ITE), baru datang memenuhi panggilan kejaksaan Negeri Depok. Padahal dalam surat Buniyani dipanggil 9.00.

Sejak pagi, suasana Kantor kejaksaan sudah bingar. Aparat sudah mulai berkumpul menunggu warga Kalibaru Permai, Kecamatan Cilodong itu. Belum ada kepastian.

Sebelumnya, Kuasa hukum, Buniyani, Aldwin Rahadian mengatakan bahwa Buni akan melaksanakan ibadah salat jumat di Masjid Albarokah, Saharjo, Tebet, Jakarta Selatan. “Iya betul. Rencana akan salat jumat disana,” kata Aldwin Rahadian kepada wartawan.

Pukul 12.50, Kejaksaan memberi keterangan pers. Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Abdul Muis Ali mengatakan Bumi Yani telah memberikan keterangan, bahwa akan menaati penetapan hukum.

“Kemarin kan statement Buni Yani, dia akan kooperatif dalam melaksanakan putusan MA,” kata Muis Ali.

Kepala Kejaksaan Negeri Kota Depok Sufari masih belum bisa memberikan keterangan. “Nanti, ya ini masih proses,” tandasnya.

Masyarakat dibuat bimbang, pertanyaan wartawan belum terjawab.

Sejak itu suasana kantor kejaksaan negeri Depok mulai ramai, aparat masih berjaga, wartawan masih menunggu.

18.45 Buniyani dikabarkan tiba di rumahnya. Berdasarkan informasi setelah dijemput paksa Buniyani minta ijin pulang kerumahnya di Cilodong, untuk menjalankan sholat Maghrib dan pamitan kepada keluarga.

Tepat pukul 19.00 Buniyani tiba di kejaksaan dengan menggunakan mobil Pajero sport bernopol B 1983 SJV. Menurut sopir yang mengantar, sebelum ke Kejaksaan Buniyani sempat menghadap ke anggota DPR RI, Fadli Zon. “Sempat menghadap Fadli Zon sebelum kesini,” kata Sopir Buniyani yang tak mau namanya di Korankan.

Pukul 20.10 Buniyani menuju Lapas Gunung Sindur. Dengan menggunakan mobil tahanan kejaksaan. Dalam keterangannya Buniyani melakukan sumpah serapah. Dia membantah telah mengedit video yang tersebar hingga menyeret dirinya menjadi terpidana UU ITE.

“Saya hanya berserah diri pada Allah saya sudah bermuhabalah, saya sudah bilang kalau saya yang melakukan, mengedit video biar saya masuk neraka abadi. Tetapi kalau saya tidak melakukanmya, biar yang menuduh saya, mulai dari pelapor, polisi, jaksa dan hakim semua masuk neraka. Saya difitnah,” kata Buniyani.

Sementara itu, kuasa hukum Buniyani, Eldwin mengatakan akan melakukan upaya hukum luar biasa dengan melakukan Peninjauan Kembali. “Kami akan berupaya melakukan upaya hukum luar biasa Peninjauan Kembali (PK),” kata Eldwin.

Terpisah, Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Sopiana mengatakan sudah siap menampung terdakwa Undang-undang tentang Informas dan Transakai Elektronik (UU ITE) Buni Yani di blok A. “Sudah pasti ditahan di Lapas Gunung Sindur atas perintah pimpinan dan Kejaksaan Negeri Depok, Jawa Barat,” kata Kepala Lapas Gunung Sindur Sopiana saat dihubungi.

Terdakwa Buni Yani kata Sopiana ditahan di ruang yang sama dengan tahanan lainya dan tidak ada perlakukan khusus di ruanga tahanan Lapas Gunung Sindur.

“Ruangan tahananya sama dengan yang lain, kita tempatkan di blok A,” ucap Sopiana.

Menurut Kapuspenkum Kejagung, Mukri mengatakan, tepat pukul 19.30 kita sudah melakukan eksekusi terhadap terpidana atas nama Buni Yani yang menjalani proses hukum, melanggar pasal 32, pasal 48 Undang-undang ITE yang mana dalam proses hukum tersebut yang bersangkutan divonis di tingkat Pengadilan Negeri selama 1 tahun 6 bulan dan kemudian di tingkat banding juga sama, kemudian mengajukan kasasi, dan tetap ditolak. Maka putusan kembali kepada keputusan di tingkat pengadilan negeri. “Nah, dari pelaksanaan putusan tersebut tadi baru saja kita melakukan eksekusi,” kata Mukri.

Sebelumnya pihaknya mengaku terlebih dahulu melakukan pemeriksaan administrasi dan langi dibawa ke Lapas di Gunung Sindur. Terkait dengan eksekusi ini saya menghimbau para pihak yang mempermasalahkan dalam arti melakukan suatu pembentukan opini-opini.

“Dalam hal ini, murni penegakan hukum. Jadi kita tidak terafiliasi kemana pun. Jadi Kejaksaan hanya semata-mata melakukan suatu penegakan hukum, dan eksekusi ini adalah bagian dari proses penegakan hukum. Sehingga bila seandainya ada yang bilang A atau B, kita tidak terpengaruh dengan kondisi seperti itu,” tukas Mukri.

Terkait upaya PK, dirinya mempersilahkan. Karena hal tersebut merupakan hak dari terpidana untuk mengajukan PK.

“Kalaupun misalnya terpidana tidak merasa bersalah, dia bisa menyampaikan bukti di pengadilan, sehingga bisa meyakinkan bahwa dia tidak bersalah, dan tentunya kita tidak perlu lagi membahas masalah itu karena putusan pengadilan sudah ada,” tambah Mukri. (rub)

Arsya Kalandra

Entah rasa bahagia level berapa yang sedang aku rasakan saat ini. Lengkap sudah status kepala keluarga setelah kelahiran anak pertama ku. Setelah dua tahun hanya tinggal berdua dengan istriku.

Arsya Kalandra, lahir di Bidan Jauharti, Cinere, tepat pukul 10.15, dengan berat badan 3.600 gram, dan panjang 50 centimeter. Rasa haru, dan bahagia menyelimuti perasaan ku. Padahal sebelumnya, setelah istriku dinyatakan telah melewati masa Hari Perkiraan Lahir (HPL) dokter yang memeriksa USG 4 dimensi sempat mengatakan anakku mengalami cacat.

Perasaan berkecamuk, saat menghadapi kelahiran istriku malah dibuat stres dengan ucapan yang aku anggap tidak mengenakan. Tapi, semua terbantahkan, setelah Kala -begitu kami memanggilnya- menangis dikali pertamanya. “Tapi anak saya normal kan dok, ngga cacat,” istriku memastikan.

Alhamdulillah memang benar, anakku normal, dan sehat. Banyak ucapan selamat dari semua kerabat. Doa datang bertubi-tubi, menyambut kelahiran Kala. Terimakasih.

Suporter

Olahraga apapun jika dihadiri suporter pertandingan akan lebih seru, betapa tidak setiap suporter atau pendukung pasti akan membela mati-matian tim kebanggaannya. Bahkan tidak jarang suporter sepakbola rela saling bunuh untuk mendukung kesebelasan kebanggaannya.

Belum lagi saat kita lihat kreativitas setiap suporter didalam mendukung kesebelasannya. Dalam pertandingan sepakbola misalnya, para suporter bahkan kerap menampilkan koreografi menarik untuk mendukung tim kebanggaannya.

Sehingga suporter kerap dijadikan sebagai pemain ke 12 dari kesebelasan sepakbola. Bukan hanya sepakbola tentu semua olahraga sangat membutuhkan suporter bahkan olahraga catur sekalipun, untuk menambah kepercayaan atlet.

Ternyata bukan hanya olahraga, dalam panggung politik suporter juga memiliki peran penting untuk kesuksesan partai politik. Dalam pemilihan presiden suporter juga menjadi kunci utama para kandidat, semakin banyak suporter tentu semakin meyakinkan kandidat untuk melaju menjadi pemimpin.

Setiap suporter rela mendukung habis-habisan untuk mendukung jagoannya, kadang dukungan yang diberikan seperti fanatik buta, tanpa tahu apa latarbelakang, visi misi, dan apa yang akan dilakukan calon saat menjabat. Sehingga tak jarang suporter tidak bisa melihat keunggulan calon lawan, dan kekurangan calon yang didukungnya. Pokoknya pilihan nya lebih baik, apapun alasannya.

Fanatik buta. Menjadi landasan berpolitik yang menurut saya tidak sehat. Belum lagi para suporter yang saling tuding, menghina, dan mengorek kebusukan calon lain, hingga aksi saling lapor, yang akhirnya semua orang tahu keburukan mereka. Mereka berkoar bahkan melebihi calon kandidat yang sedang berkompetisi.

Tidak hanya itu, saat istri ku menghadapi hari persalinan, banyak suporter yang mendukung. Merasa paling ngerti dan paling paham tentang proses persalinan. Padahal jauh sebelumnya istriku sudah lebih paham karena aktif berkomunikasi dengan sang bidan. Tapi mereka merasa yang paling paham, lantaran mereka sudah pernah merasakan hamil.

Tentu kondisi demikian bukan malah membuat aku dan istri tenang, malah semakin geram, karena apa yang telah di sampaikan bidan pada kami semua tak ada artinya buat suporter. Mereka hanya tau kalau istriku harus segera lahir secara normal, tanpa pedulikan proses panjang persalinan.

Ah sudahlah namanya juga suporter, kalau tidak gaduh bukan suporter namanya, asal mereka tidak saling bunuh saja.

Dia marah aku bahagia

Diam adalah emas, mungkin pribahasa ini kurang tepat jika ada di dalam rumahku, yang mungkin lebih pantas dibilang kamar, karena ukurannya yang kecil, hanya sepetak.

Tetanggaku, seorang penjual Soto Madura, diseberang pusat perbelanjaan di perbatasan Depok dan Jakarta. Disebelah nya, bibi ku, yang suaminya bekerja di bidang perhubungan, divisi ojek daring. Kontrakan kami berjejer tiga pintu, dengan ukuran setiap rumah 4×3 meter.

Setiap hari, pasti tukang soto menjadi yang pertama bangun. ‘Ctekk’ suara khas saat menyalakan kompor gas sudah terdengar sebelum Adzan Subuh. Entah apa yang mereka lakukan, yang jelas setiap jam 7.00 suaminya sudah start mendorong gerobak soto ke depan Mall Cinere.

Setiap hari menjadi kebiasaan ku, mendengar aktifitas mereka. Belum lagi di rumah paling dekat dengan jalan Nce (bibi dalam bahasa Betawi Depok, red) sudah mulai teriak saat Dilah anaknya susah diatur untuk berangkat sekolah, tak jarang mereka saling sahut mempertahankan argumentasi nya. Seru, cenderung gaduh, tapi aku suka suasana itu, bahkan tak jarang aku tertawa saat mereka saling lempar kata.

Meski gaduh, suaminya tetap santai seraya memberi makan burung peliharaannya, sebelum berangkat.

Biasanya setiap pagi, istriku juga sibuk, berangkat ngajar. Istriku adalah guru favorit di salah satu SMA swasta di Jakarta Selatan.

Tak jarang, setiap bagi rapot, selalu saja ada orang tua murid memberikan nya hadiah, bukti kepercayaan orang tua karena mau mendidik anaknya. Setelah sholat subuh biasanya aku tidur lagi. Tapi istriku langsung mandi, karena pukul 7.00 dia harus sudah ada disekolah.

Mendekati 6.30 istriku mulai bangun kan aku lagi. Mulai dari rayuan, secara halus, sampai marah-marah, karena khawatir terlambat. Karena semenjak hamil, istriku tak lagi boleh naik motor, otomatis sudah menjadi kewajiban suami siaga untuk antar jemput ibu hamil. Belum mandi, malas cuci muka, dan pakaian seadanya aku pergi mengantar istriku. Karena setelah antar istri kegiatan yang paling utama akan aku kerjakan ya tidur lagi. Hehehe. Sekarang ngga lagi, semenjak dia memasuki masa cuti melahirkan.

Tapi belakangan memasuki masa kelahiran dia mulai galau, uring-uringan, entah apa yang dia rasa. Dia kadang marah tiba-tiba, diam, dan menangis, sangat sulit mengerti keinginannya, siklus emosinya naik turun. Tapi bukankah itu tanda bahwa bayinya sehat, tinggal tunggu lahir sesuai cita-citanya ingin merasakan menjadi wanita seutuhnya, dengan melahirkan bayinya secara normal.

Saat dia marah aku malah merasa bahagia, karena anak yang ada di dalam kandungan nya sedang bereaksi, menunjukkan kekuatannya kepada ibunya. Semoga anak laki-laki itu akan selalu menjaga ibunya.

Tak perlu ada yang dikorbankan

Tanggung jawab kerja, keluarga, dan diri sendiri merupakan prioritas yang tidak harus saling mengalahkan. Semua mendapatkan porsinya masing-masing secara adil, sebagai prioritas yang harus dilakukan.

Aku tak pernah membayangkan sampai pada titik ini, punya istri, sedang hamil tua, menunggu kelahiran anak pertama.

Bingung, memang baru pertama kali mau punya anak. Semua masukan datang bertubi-tubi, sampai tak tahu mana yang harus aku kerjakan lebih dulu.

Sebagai wanita yang baru pertama kali hamil, tentu perasaannya kalut, sebagai suami tentu sudah menjadi kewajiban untuk menjaga dan selalu siaga jika diperlukan.

Apalagi kalau tiba-tiba air matanya tumpah, merasakan sakit, atau memikirkan hari perkiraan lahir yang telah ditentukan bidan sudah lewat.

Maklum, kami baru diberikan keturunan setelah dua tahun usia pernikahan kami. Tentu keberadaan anak sangat kami nantikan, juga menjadi penantian keluarga besar kami.

Proses hamilnya panjang, karena sempat dua tahun kosong, karena kista yang ada di rahim istriku. Mungkin menjadi alasan proses hamilnya pun lama. Hehe kira-kira aja.

Tapi kan memang ada bayi yang lahirnya lebih dari sembilan bulan masa kehamilan. Kalau belum masuk masa lahir namanya prematur, nah kalau lewat masa lahir namanya apa?

Keponakan kawanku yang sekarang tinggat di Bandung juga menceritakan kalau adiknya hamil sampai 10 bulan. Sehat, dan normal, bayinya laki-laki, dengan usia kandungan 10 bulan, hanya ukurannya saja yang besar, berbeda dengan ukuran bayi yang lahir pada masa usia kehamilan 9 bulan.

Berarti memang ada proses kelahiran dengan usia kehamilan lebih dari 9 bulan.

Kami masih menunggu bayi laki-laki kami yang berada di dalam perut ibunya. Aku tetap siaga, dengat tetap terlihat santai, meski dalam hati kemelut di jiwa juga bergejolak. Apa yang harus aku lakukan? Tapi bersikap tenang mampu membuat istriku juga merasa tenang.

Bukankah, kita tak tahu absurtnya bagaimana mengadapi kuliah dan  banyak mendengar cerita horor saat sidang skripsi, tapi ternyata kita mampu lalui semuanya begitu saja, ya begitu saja, dengan mudah.

Di sisi lain kewajibanku sebagai karyawan sebuah perusahaan media lokal, di kota kecil juga tetap menjadi tanggung jawab. Masyarakat harus mendapatkan hak informasi yang setiap hari kami sajikan. Tidak ada alasan untuk meninggalkan kewajiban dari sumber penghasilanku. Kalau petani butuh sawah, saya butuh media.

Begitupun jika kita memiliki beban baru, karena setiap bertambah usia manusia akan menerima beban hidup, sebagai tanggung jawab baru.

Tidak perlu ada yang ditinggal, semuanya harus berjalan beriringan. Tinggal menentukan waktu, tak ada yang tidak mungkin dan semuanya bakal selesai jika kita persiapkan waktunya.

Hobi kok Jatuh

Lagi, aku membuat rusak motor kesayangan kami, karena hanya itu motor yang kami miliki untuk aktivitas sehari-hari. Luka memar di kakiku bukan lagi menjadi hal yang mengejutkan buat istriku. “Punya hobi kok jatoh, hahaha,” dia mengejek ku yang seolah tak pernah hati-hati saat bawa motor.

Azha, sepupuku kelas 2 SD, seolah mengingatkan ku, pada kecelakaan sebelumnya. “Sebelumnya pernah ditabrak tukang somay!” disambut riang gelak tawa istri, mertua, kakak ipar, membayangkan saus kacang bumbu somay memenuhi jaket, mirip somay raksasa.

Betapa nyaman, dan hangat ketika aku sedang di rumah. Tapi tetap saja, kaki kiriku yang sempat terhimpit motorku, dan knalpot motor megapro laki-laki tinggi besar berbadan tegap, mengenakan training olahraga yang saat bersamaan juga sedang menabrak Abang gojek, tetap saja sakit.

Ya tepat, tabrakan beruntun, apesnya aku berada di posisi paling belakang, dan kondisi motorku juga yang paling parah. Belum lagi, mengobati kaki, sebelum pulang ke rumah. Aku sempat minta tolong Pak Ujang, kepala rumah tangga kantor, (begitu kami menyebutnya) untuk belikan minyak tawon, dengan harapan bisa kurangi rasa nyeri pada malam hari.

Aku sempat merasa baik-baik saja, dan tidak perlu memanggil Mak Minah, tukang urut langganan keluarga. Tapi akhirnya urut juga, karena tak sanggup tahan sakit saat menapak di lantai. Saat di urut, akupun sempat beberapakali berteriak. Bayangkan saja, tepat di pergelangan kaki yang bengkak, Mak Minah menekan dengan keras, sambil mengurutnya ke bagian atas. ‘Adaaw’ aku menjerit sambil kutahan, maklum rumah kami hanya kontrakan sepetak, di pinggir Kota Depok kalau aku berteriak pasti sangat menggangu tetangga kontrakan ku. “Biar uratnya lurus tong,” kata Mak Minah, tanpa rasa bersalah.

Itulah keluarga, Tak hanya pada saat senang, kita bisa bahagia, keadaan susah pun dapat kita kemas menjadi bahagia. Tak perlu mewah, untuk bahagia. Kecelakaan pun bisa menjadi hikmah untuk mensyukuri, menyayangi, dan selalu menjaga keluarga. Seperti ibu.

Kemewahan bukan lagi ada diseberang samudera, dicari dengan susah payah, hanya untuk mengejar harta dunia.

Tanpa disadari, disekeliling kita banyak yang lebih baik dari harta, yaitu cinta, dan keluarga. Banyak orang bayar mahal untuk mengejar harta sampai korbankan keluarga.

Menjaga Hutan Tanpa Pilihan

Hutan kembali merayakan hari jadi-nya 21 Maret 2017, lalu. Hari untuk sekedar mengingatkan manusia agar lebih peduli, karena manusia sangat membutuhkan hutan, meskipun jarang sekali berinteraksi dengan hutan. Keberadaan hutan sebagai paru-paru dunia sangat penting sebagai penghasil oksigen yang dibutuhkan manusia untuk bernafas meski manusia berada jauh dari hutan.

Dibalik isu pemanasan global, dan pembabatan hutan, ironisnya, Indonesia justru dituding sebagai salah satu negara paling banyak merusak hutan di dunia. Sebenarnya, Indonesia bukan satu-satu negara perusak hutan di dunia, tapi karena Indonesia begitu lambat melakukan pembangunan sehingga Indonesia dicap sebagai negara pengrusak hutan ketika ingin memulai membangun, disaat negara lain sudah maju.

Pada masa orde baru, berawal pada tahun 1968 Indonesia memulai gencar membangun melalui Kabinet Pembangunan I bentukan presiden RI saat itu, Soeharto. Bahkan Soeharto sempat dijuluki sebagai bapak pembanguna guna mendongkrak geliat dan promosi pembangunan di Indonesia. Konsekuensinya, tidak sedikit hutan di Indonesia dibuka, untuk dijadikan lahan industri, perkebunan, maupun pemukiman.

Terlebih di era globalisasi seperti saat ini, pembangunan sudah tidak bisa dihindari bagi Bangsa Indonesia yang mulai bangkit guna menunjang mobilitas, dan kebutuhan manusianya. Sehingga tanpa disadari, dari tahun-ketahun luas hutan di Indonesia semakin berkurang dan semakin menipis.

Sebagai contoh, data luas kawasan hutan kota di Jakarta berdasarkan SK menteri Kehutanan NO.SK.425/Menlhk-Setjen/2015 dan SK.428/Menlkh-setjen/2015 hanya seluas 440,12 Ha (tanpa kepulauan seribu, red) dari luas wilayah DKI Jakarta yakni 66.233 Ha. Kondisi tersebut tentu sangat berbanding terbalik dimasa awal kemerdekaan Indonesia.
Dengan luas jakarta yang begitu besar pada tahun 1967 Jakarta baru memiliki Gedung Sarinah di kawasan Tamrin sebagai gedung pertama setinggi 74 meter dengan 15 lantai, bisa dibayangkan kondisi alam di Jakarta saat itu, tidak macet dan kondisi udara masih steril. Sedangkan, jika dibandingkan saat ini Jakarta sudah memiliki sekitar 700 gedung lebih yang memadati di setiap sudut Jakarta, membentuk hutan beton baru sehingga berdampak pada polusi dan kemacetan.

Pembangunan menjadi sebuah hal mutlak bagi negara berkembang seperti Indonesia, namun dengan konsekuensi bisa merusak hutan lebih luas lagi, seperti memakan buah simalakama.
Predikat sebagai negara perusak hutan dirasa seperti tidak adil jika hanya di sematkan ke Indonesia. Bagaimana dengan negara maju yang sudah memulai pembangunan sejak abad ke-18, apakah mereka tidak merusak hutan? Justru perusakan hutan lebih dulu dilakukan di Amerika dan Eropa jauh sebelum Indonesia.

Di Amerika misalnya, semenjak revolusi Amerika 1783 pembangunan tata kota di Amerika mulai bergeliat. Tak dipungkiri pada saat itu Amerika-pun membuka hutan untuk membentuk tatanan kota baru. Bahkan dengan pesatnya pembangunan, saat ini New York yang memiliki luas 78.891,09 Ha sudah dipenuhi ‘hutan beton’. Ironisnya New York hanya menyediakan 3,41 kilometer persegi untuk lahan hijau yang saat ini dikenal sebagai Central Park. Sangat tidak berbanding.

Tidak hanya New York, begitupula dengan sejumlah negara yang berada di Kawasan Eropa dan Amerika yang telah terlebih dahulu membabat hutan lebih sadis dari Indonesia. Untuk mempertahankan kebutuhan oksigen dunia, negara-negara di Amerika dan Eropa meminta dengan sedikit memaksa ke negara Asia, Amerika Latin, dan sejumlah negara yang masih memiliki hutan untuk mempertahankan hutan-nya untuk dijadikan paru-paru dunia.

Apakah ini bentuk gerakan cinta bumi untuk mempertahankan paru-paru dunia ciptaan negara adidaya yang nyatanya lebih dulu merusak hutan, atau bahkan dalih untuk menghambat pertumbuhan negara berkembang seperti Indonesia. Indonesia bukan negara perusak hutan paling banyak, tapi tidak bisa dihindari Indonesia juga tetap harus menjaga hutan sebagai paru-paru dunia.

Meski tak pernah ke hutan, dan jarang sekali menjamah hutan setidaknya kita masih bisa menghirup oksigen dari hutan Indonesia. Bagaimana dengan perkembangan pembangunan negara, mau tidak mau kita harus tetap berkembang dan membangun dengan tetap menjaga dunia dengan paru-paru kita.

“Kita harus menjaga hutan, karena harus dan tanpa pilihan,” -rubiakto-

*diolah dari berbagai sumber